Label

Minggu, 22 Februari 2015

Love Your Time, Don't waste it




Kini aku mulai berusaha menikmati setiap detik waktu di dalam hidupku ini. karena aku sudah tersadar bahwa waktu yang sudah diberikan oleh Tuhan sangatlah berharga. setiap detik setiap langkah kaki dan setiap sentuhan angin yang menerpa wajahku di kala aku sedang berangkat untuk bekerja kan selalu aku nikmati hari demi hari. suara alunan ombak di sungai yang selalu mendayu dayu seirama dengan tubuhku yang mendayu di atas perahu penyebrangan. Tuhan, ini sungguh indah.


teman, terkadang kita berada di tempat yang berbeda dan mungkin jauh lebih baik dari apa yang sudah kita miliki, terkesan lebih enak dari pada tempat kita sendiri. kita pasti tidak ingin cepat untuk merasakan hari esok, pasti hanya ada rasa selalu ingin menikmati semua itu dan waktu ingin sekali untuk dihentikan sejenak. karena memang detik itu kita telah terlena dan terhipnotis dengan apa yang sudah Tuhan anugrahkan untuk kita pada saat itu, tapi tanpa kita sadari kita memang sudah harus kembali ke tempat kita sendiri. dan itu saya sudah rasakan ketika aku pergi training ke Kota Balikpapan untuk training atas pekerjaanku bersama dua orag teman seangkatanku dari pontianak bulan september 2014 lalu. kami tinggal di Fave hotel dengan kamar yang mewah dan sangat cozy, bed masing masing, dengan suhu ruangan yang pas, tv LED di dalam kamar sendiri, meja belajar di depan jendelaa yang besar, kasur yang sangat empuk dengan bantal dan guling besar yang mungkin aku tidak bisa memeluk sepenuhnya. dan setiap paginya sudah ada cleaning service yang membersihkan kamar dan merapikan tempat tidur kami, layanan untuk laundry, shower yang tidak perlu kita pegang sendiri untuk mandi, cozy banget, dan pemandangan laut yang indah pas di luar jendela kamar kami langsung menghadap ke arah kamar kami. rasa tidak ingin pulang kembali ke rumah semakin besar. tapi, semua itu hanyalah suatu hal yang sekedar mampir dan Tuhan hanya mengizinkanku untuk pernah merasakannya. dan pada akhirnya aku harus kembali lagi ke asalku.

pada malam hari itu aku melihat langit - langit yang dipenuhi lampu - lampu yang bisa disetel untuk tidur, untuk belajar, dimatikan, atau hanya untuk lampu menonton tv, tapi di malam yang berbeda aku sedang melihat langit - langit kamarku yang hanya dihiasi oleh stiker stiker bintang warna warni yang bisa menyala dalam gelap yang dulu saat aku masih sekolah dan kupasang dengan sangat susah payah, dengan kipas angin model lama yang udah lama menemani tahun tahunku di sini. waktu memang susah ditebak, Tuhan dan rencananya tidak bisa kita tebak. kemarin seperti ini dan besok seperti itu. besok dan seterusnya kita tidak pernah tahu akan menjadi seperti apa. yang bisa memilih jalan hidup kita hanyalah diri kita sendiri teman, mau kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya atau kehidupan yang lebih baik dari para generasi nenek moyangmu sebelumnya, mau kehidupan yang flat biasa - biasa saja seperti air yang mengalir saja? Atau kehidupan penuh warna dengan ditemani pelangi serta anak anakmu yang banyak dan hidupmu matimu dengan penuh suka cita? diri kita sendiri yang menentukan nasib kita di masa depan nanti. asalkan tidak salah melangkah dan tidak lupa untuk selalu bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan sekarang.


sama seperti saat aku bersama orang yang aku cintai, sekarang aku mungkin bisa menyentuhnya, bisa menggenggam erat tangannya, melihat wajahnya dan mengecup pipinya dengan penuh kelembutan. tapi di waktu yang berbeda aku sudah tidak bisa melihatnya dan menyentuhnya. waktu hanyalah waktu, tidak bisa diulang, tidak bisa diperlambat, dan tidak bisa dipercepat.


dan sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah mensyukuri hidup ini dan terus melanjutkan hidup ini dengan menikmati waktu yang sedang berjalan. jangan pernah menyerah akan waktu yang sudah diberikan oleh Tuhan karena sebuah cobaan dan kegagalan, karena Tuhan sudah tahu takdir yang Ia tuliskan untuk kita , untuk saat ini, untuk esok, dan untuk beberapa dekade lagi. yang kita bisa hanyalah terus memanfaatkan waktu yang ada dengan semaksimal mungkin dengan rasa bahagia , dengan rasa syukur, menikmati detik - detik hidup yang sudah diberikah oleh Tuhan dengan sebaik -baiknya. waktu tidak bisa diulang, maka janganlah pernah menebar kebencian atau menerbarkan hal - hal buruk yang dikemudian hari kita akan sangat menyesalinya dan akan berkata "seandainya waktu bisa diulang kembali, aku tidak akan melakukan ini melakukan itu dan sebagainya", jangan sampai hal tersebut kembali terjadi padaku, aku tidak ingin menyesal, maka dari itu aku selalu beruusaha sebaik baiknya dalam menikmati waktu yang kupunya dari sekarang. sama ketika aku berpikir, senadainya dulu aku menabung, pasti sekarang aku sudah bisa membeli motor dengn hasilku menabung sendiri dari uang jajanku selama di sekolah. hehe

teman, ambilah setiap kesempatan yang ada, jangan sampai menyianyiakan waktu dan kesempatan yang ada di depanmu. karena kesempatan yang diberikan oleh waktu tidak akan datang untuk yang kedua kalinya, buatlah hari - harimu indah dan buatlah agar pikiranmu selalu berpikiran yang positif saja dan selalu bersyukur dengan apa yang sudah diberikan oleh Tuhan YME hari ini. karena sesungguhnya waktu yang diberikan oleh Tuhan untuk kita itu adalah waktu yang sangatlah indah dengan masalah masalah hidup yang mewarnai hidup kita. berwarna warni dan dibumbui juga dengan rasa kebahagiaan dan suka cita disela sela masalah yang sedang kita hadapi.


jadi, jangan pernah mengeluh dan merasa jadi orang yang paling menderita di dunia, apalagi merasakan stress yang berkepanjangan sampai ingin mengakhiri hidupmu, ingat bahwa waktu di dalam kehidupan yang diberikan oleh Tuhan hanyalah sekali, manfaatkan waktu dan kehidupanmu dengan rasa bahagia. ambil sisi positif dari setiap masalah yang ada. jangan merasa terpuruk yang berkepanjangan. hidup cuma sekali


nikmatilah setiap detik dan setiap hembusan nafasmu dengan rasa bahagia and you will not regret it.

Rabu, 18 Februari 2015

Lisan




Lisan. Manusia pasti banyak berlisan, yaiyalah karena manusia mempunyai bibir untuk berucap atau berlisan.
kadang kita ditempatkan pada suatu situasi di mana kita merasa buntu dan hilang akal sehingga lisan dan otak tidak berjalan bersamaan. Dari ketimpangan itulah mulut mulai mengeluarkan kalimat kalimat yang tidak seharusnya diucapkan.

Saat kita terpojok lebih baik kita diam, dengarkan apapun yang dikatakan oleh lawan bicara kita. Karena apa ? Karena lisan bisa memperkeruh suasana atau bahkan bisa menetralisir suasana yang sedang kacau. Diam, dengarkan, dan pahami maksud hati atau tujuan dari lawan bicara kita. Lisan kita pun harus benar benar terkunci dan jangan sampai mengeluarkan kalimat kalimat tidak sopan dengan nada dan intonasi suara tinggi.

Lisan, bagaikan pedang tidak bersarung yang ditanam di dalam mulut kita secara permanen.

Seandainya lisan ini memiliki sarung atau proteksi maka tidak akan ada masalah masalah yang namanya miss understanding. Sewajarnya saja lisan berbicara dan akan sewajarkan juga lisan ini melindungi diri kita dari niat jahat orang lain.

Sarung pedang untuk lisan kita tidak sulit untuk menemukannya dan mematchingkannya dengan lisan ini. Sarung daripada pedang lisan kita sendiri yaitu kesabaran. Apalah artinya hati dan telinga tanpa adanya kesabaran.

Kesabaran dalam menghadapi masa masa sulit yang disebabkan oleh lisan kita sendiri. Rasakan dan renungilah kembali bahwa hati tanpa kesabaran tidak akan mungkin tidak sakit hati. Apalagi kalau telinga yang berfungsi untuk mendengar ini tanpa adanya kesabaran , pasti apapun yang dikatakan ke kita kita telan mentah mentah tanpa disaring dan dipikirkan matang matang dengan sabar.

Kesabaran ada kunci akan semua yang berhubungan dengan lisan ini.

Emosi jiwa yang sedang bergejolak di dalam hati kita, yang disebabkan oleh pendengaran kita sendiri yang berapi api tanpa di dampingi oleh kesabaran pasti akan mengakibatkan lisan ini mengeluarkan hal hal yang bisa menyakiti dan menjadi boomerang bagi diri kita.

hati hati lah dalam berucap, karena apapun yang kita ucapkan tanpa pikir panjang pastiakan menjadi boomerang untuk diri kita lagi.

Dari pengalamanku selama dua hari ini di tempat kerjaku, aku belajar untuk lebih sabar lagi dan lebih peka lagi terhadap apa yang sedang menimpaku. Baik itu buruk ataupun tidak buruk. Manusia itu sendirilah yang mampu menahan lisannya untuk berkata kata yang tidak baik pastilah manusia yang sangat luar biasa.

Ingat ! Jagalah lisanmu karena dari lisan itu sendiri bisa berbalik dan mengejarmu dikemudian hari. :)