Label

Senin, 24 Oktober 2016

Ceritaku di tahun 2016 (mostly sad I think)

Tahun 2016 adalah tahun di mana kebahagiaan dan kepedihan muncul di kehidupanku. Tahun 2016 juga tahun yang sangat berarti di dalam hidupku dan tahun yang sangat pedih di dalam kehidupanku juga. Yaaah membingungkan juga untuk menjelaskannya.

Di tahun 2016 ini pada bulan Mei aku dan semua teman - teman sekantorku berlibur ke Kuching Malaysia untuk liburan seluruh karyawan BCA Pontianak (ratusan orang yang ikut serta). Bulan Juni - Juli adalah bulan Ramadhan di tahun ini dan aku akhirnya bisa mudik untuk berlebaran bersama kedua orang tuaku (meskipun bergantian tempat). 

Aku bahagia bisa membelikan mamaku beberapa barang yang tidak dimilikinya semasa hidupnya ataupun barang yang diinginkan beliau namun belum sempat terbeli. Aku merasa sangat bahagia karena bisa liburan di Palembang tempat papaku lahir dan mendengarkan cerita dari Uwakku (Kakak Perempuan Papaku) dari kecilnya papa hingga sekarang, mengenang masa - masa muda papa, masa kecil papa bersama saudara kandungnya, nakalnya papa, berkeliling kota Palembang dan nostalgia dari cerita tempat tersebut dan masih menyangkut papaku dan sebagainya dan sebagainya. Hehehe. Aku juga sangat bahagia bisa datang ke kantor papa di Lampung Timur dan menghabiskan perjalanan bersama papa yang sedang menyetir mobil tengah malam menuju polsek tempat papa bekerja sambil membicarakan masa depanku dan membicarakan tentang kehidupan di dunia ini.

Di awal Agustus aku bahagia karena aku berhasil menjadi seorang Sarjana dengan gelar Sarjana Ekonomi, dan okeeee aku sudah sarjana sekarang alhamdulillah. Kemudian di pertengahan Agustus aku bahagia karena merayakan ulang tahunku yang hampir seperempat abad usiaku juga.

Dan di tahun ini pula aku di angkat menjadi karyawan tetap BCA, setelah perjuangan panjang selama satu tahun lebih menjadi Bakti BCA kerja sambil kuliah dengan waktu istirahat hanya 7 jam dalam satu hari. Dengan siklus sebagai berikut pada pukul 05:00 pagi aku bangun pagi, berangkat kerja pukul 06:25 lalu pulang kerja pukul 16:30 langsung lanjut kuliah tanpa berganti pakaian, tanpa mandi, tanpa makan sore sampai denga pukul 20:30 dan sesampainya di rumah itu sekitar pukul 21:00 ke atas. Dan itu semua kualami terus silih berganti dari setiap hari senin sampai dengan hari jumat selama kurang lebih satu tahun ini yang bertujuan untuk melanjutkan studyku dari D3 ke S1, dan juga sebagai syarat mengikuti tes seleksi karyawan tetap. Kebahagiaan hanya sampai disitu menurutku, karena.................

pada tanggal 30 Agustus 2016 menjadi hari paling menyedihkan memilukan di dalam kehidupanku di dunia, karena papaku tiba - tiba meninggal terkena angin duduk dengan istiah medisnya serangan jantung, yang dikarenakan kecapekan, banyak pikiran, memendam beban terlalu berat, dll. Betapa amat sangat super mengejutkan, karena satu hari sebelumnya kami masih sempat berkomunikasi melalui handphone dan beliau masih baik - baik saja, hanya saja beliau mengeluh sedang banyak beban pikiran minggu - minggu ini. Bagaikan disambar petir dengan tegangan 99990000 Volt di atas kepalaku ketika mendengar kabar tersebut, antara percaya dan tidak percaya. Seandainya saja langit bisa runtuh dan hancur remuk pecah - pecah berguguran ke bumi, begitu pula keadaan mentalku pada saat itu, hancur, remuk, terkejut, sedih, kesal, marah, emosi, tidak percaya, sempat tidak menerima, ingin berteriak sekuat tenaga, namun aku tetap berusaha tawakal, berusaha tegar untuk tidak menangis dan mengucap istighfar beberapa kali agar aku benar - benar berhasil untuk lebih tegar dan kuat. Karena aku adalah anak yang kuat dan tegar. Aku selalu menanamkan di dalam otakku bahwa aku adalah seorang cucu dari orang yang kuat dan tegar bagaikan seekor harimau, jadi aku harus kuat, meskipun air mata tidak terasa menetes terus seperti air terjun yang seakan tetap tidak percaya bahwa ini benar - benar terjadi. 

Ku tampar - tampar wajahku dan kupukul lenganku untuk membuktikan apakah ini mimpi atau bukan. Ya Allah aku seperti boneka yang sudah terbang melayang, berpikiran ke mana - mana, ku bayangkan kembali saat terakhir kali aku bertemu dengan papaku saat beliau mengantarku untuk kembali ke Pontianak. Beliau menciumiku, menciumi wajahku dan keningku sambil memelukku erat dan beliau sambil menangis. "Ya Allah kenapa aku tidak sadar itu hari terakhirku bertemu dengan papaku di dunia ini?", itu lah yang selalu terlintas di dalam benakku. Aargghh!!!

Belum sempat aku bahagiakan beliau, belum sempat aku belikan beliau barang - barang yang bagus dan mahal dari gajiku, meskipun beliau selalu menolak jika aku ingin membelikan sesuatu untuknya. Malah selalu beliau yang memiliki impian ingin membelikanku barang - barang seperti perhiasan emas, baju yang bagus, dan ingin sekali agar aku bisa beliau kuliahkan lagi untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi daripada hanya S1, namun aku menolaknya. Seandainya aku tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan papaku, seandainya beliau mengeluhkan akan semua keluh kesahnya 100% ke aku dan tidak setengah - setengah aku pasti tidak akan mau merepotkan beliau apalagi sampai membuat beliau sedih atau terbebani karena kuliahku kemarin.

Aku sayang sekali kepada papaku dan mamaku, meskipun banyak kekurangan dan ketidak sempurnaan hidupku di dunia ini bersama mereka berdua. Tapi aku tetap bertekad agar kehidupanku kelak akan menjadi lebih baik dan aku hidup bahagia dunia akhirat bersama kedua orangtuaku, meskipun semua itu hanyalah mimpi dan doaku saja untuk saat ini. Aku punya mimpi besar yang 5 tahun lalu sudah aku impikan, mimpiku antara lain yaitu aku sudah memiliki pekerjaan yang bagus, menjadi seorang polwan atau seorang pegawai bank, ternyata Allah lebih mengizinkan cita - citaku yang kedua, dan sekarang aku sudah menjadi karyawan tetap di sebuah bank swasta dari hasil jerih payahku dan luka - lukaku sendiri dan dengan tekatku untuk membahagiakan kedua orangtuaku untuk membalas kasih sayang mereka selama ini.  Aku bukan anak yang pendendam, aku sebenarnya anak yang pemaaf dan sabar, selalu memaafkan siapapun yang melukai perasaanku (ajaran dari alm. nenekku Hj Supartin Binti Kyai Ahmad Dahlan).

Dan ada beberapa tuduhan terhadapku yang aku berani berkata Demi Allah, demi hidup dan matiku aku berani bersumpah di atas langit dan bumi ini bahwa aku mencari pekerjaan di bank swasta ini adalah murni hasil jerih payahku sendiri tanpa campur tangan orang lain dan siapapun. Aku mencari sendiri, keliling berpanas - panasan disiang hari, di siangnya kota Pontianak, dan yang pada saat itu aku belum selesai di kuliahku D3 (mencari pekerjaan di semester akhir perkuliahanku yang D3 ABA Pontianak). 

Tidak ada yang namanya orang dalam, kenalan orang dalam, minta tolong orang, atau bahkan nyogok dengan uang ratusan juta. Semuanya murni dan apa adanya dari otakku dan kepribadianku yang unik kata orang,, di tempat kerjaku ini tidak mengenal yang namanya nyogok, mau anak presiden sekalipun kalau udah tidak sesuai dengan kriteria (attitude yang baik, otak yang pintar, bekerja dari hati, humble, ramah, sopan dengan senior atau junior) ya tidak akan mungkin bisa lolos jadi karyawan, jangankan jadi karyawan tetap, jadi karyawan magang saja tidak akan bisa lolos jika kriteria di atas tidak terpenuhi. Di tempatku bekerja tidak ada yang namanya nyogok, tidak akan bisa, banyak orang - orang yang bisa ditanyai di seluruh Indonesia ini betapa sulitnya mendapatkan pekerjaan di kantorku, apalagi menjadi karyawan tetap di tempatku bekerja ini. Sangat sulit, sangat susah dan sangat penuh perjuangan untuk meraihnya, tidak akan segampang itu.

Aku lebih takut jika mendapat pekerjaan menjadi Pegawai Negeri Sipil atau berbau Negeri/Negara karena aku takut dibilang mendapatkan pekerjaan tersebut karena dimasukan oleh keluarga, atau ada kenalan orang dalam, nyogok uang ratusan juta, dan berbagai macam tuduhan lainnya, maka dari itu aku mencari pekerjaan menjadi  seorang KARYAWAN SWASTA !!!!! Agar aku tidak dituduh yang macam - macam, dan ternyata aku masih dituduh juga. Ya Allah Ya Robi.

Betapa jahat dan bengisnya apabila ada yang menuduhku mendapatkan pekerjaan ini karena ada dicarikan oleh keluarga atau masuk karena ada uang sogokan. Sungguh sangat memilukan hatiku mendengar semua perkataan - perkataan jahat orang - orang tidak bertanggung jawab tersebut. 

Jika dibayangkan untuk menjadi seorang Mezayu itu sangat sulit dan penuh penderitaan yang tidak kalian ketahui semua dan jauh lebih banyak cobaan dari Allah yang tidak bisa semuanya aku ceritakan dan berbagi dengan kalian, karena masing-masing manusia memiliki porsi masalahnya sendiri - sendiri yang sudah dibagi - bagi oleh Tuhan untuk kita ssemua hadapi. 

Kisah hidupku memang bukan satu - satunya kisah menyedihkan sekali karena di bawahku pasti masih banyak kisah - kisah lainnya yang lebih menyakitkan, masih banyak para fakir miskin, dan orang - orang yang jauh lebih membutuhkan dariku. 

Aku hanya ingin menyampaikan pesan kepada semua orang bahwa jika kita bermimpi jangan takut untuk meraihnya, buktikan bahwa kita bisa mendapatkannya dengan cara yang benar. Cobaan sebesar dan seberat apapun di hidup kita akan bisa kita atasi, karena Tuhan sudah mengetahui porsi dari kemampuan kita untuk menakhlukan ujian tersebut. Percayalah pada kekuatan yang ada di dalam dirimu sendiri, jadilah dirimu sendiri, bersinarlah terang sampai ajal menjemput kita nanti dan jangan lupa selalu mensyukuri semua yang sudah diberikan kepada kita dari Allah, baik itu kebahagiaan maupun kesedihan. Susah senang sabar :)

Sampai jumpa lagi teman - teman :)